DIAMKU MEMBAWA DERITA (Bag 2)
“Win kamu sudah mulai berani ya,” kata Riska
suatu hari.
“Ma-maksudmu apa Ris?” tanyaku.
“Udah deh nggak usah pura-pura. Kalau nggak
mau dikeluarin dari sekolah jauhi Ardi. Asal kamu tahu ya dia itu punyaku!”
kata Riska.
“Tapi kan aku nggak salah,” belaku.
“Oh sekarang berani ya,” kata Riska.
“Pukul saja Ris. Ini anak mesti diberi
pelajaran kayaknya biar nggak banyak bicara lagi,” kata Yeni.
“Sabar dulu Yen. Kita sudah peringatkan, kalau
masih bandel, bukan hanya kupuluk tapi biar dia dikeluarkan dari sekolah,” kata
Riska.
“Bagaimana Win?” tanya Sasti.
“Aku harus berbuat apa?” tanyaku.
“Cukup mudah, kamu jangan dekat-dekat lagi
dengan Ardi kalau bisa jangan bicara lagi pada Ardi. Dan ingat jangan katakan
pada Ardi tentang perkataanku ini. Awas kau!” ancam Riska.
“Baik, asal aku nggak dikeluarin kan?” kataku
memastikan.
“Tentu tidak kalau kamu menurut. Dan sekarang pergi
sana!”
“Ba-baik,” jawabku gugup.
Aku tidak berani menantang Riska. Aku takut
dikeluarkan dari sekolah. Tapi aku harus kehilangan Ardi. Tapi tidak mengapa
daripada dikeluarkan. Masa depanku bisa berantakan.
Begitulah aku berusaha menjauhi Ardi. Pada mulanya
memang sulit tapi akhirnya Ardi juga semakin jauh. Mungkin dia jengkel melihat
sikapku yang sengaja kubuat-buat agar Ardi membenciku. Dan begitu pula Riska.
Dia senang dengan perkerjaanku. Yang terpenting aku aman.
Tapi suatu hari Ardi mengajakku pulang bersama
dengan paksa. Aku tidak bisa menolak karena Ardi terus memaksa, lagi pula aku
ingin menegaskan agar dia menjauhiku. Rupanya dia mau mengajakku ke pantai.
“Win, kamu ini mengapa sih?” tanya Ardi
memulai pembicaraan.
“Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingin kamu
menjauhiku. Ini demi kebaikanmu,” kataku sebenarnya.
“Demi kebaikanku? Aku malah kehilangan sahabat
Win. Alasanmu tak bisa ku terima,” kata Ardi.
“Terserah, yang jelas mulai sekarang jangan
sahabatan dengan aku. Jangan bicara denganku titik!” kataku tegas.
“Ini nggak masuk akal Win. Ini aneh. Nggak
biasanya kamu seperti ini,” kata Ardi.
“Aku nggak butuh komentar. Aku mau pulang,”
kataku sambil melangkah pergi.
“Tunggu Win. Kamu salah. Jika kamu memang
benar, kamu nggak akan ngelakuin ini,” kata Ardi.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Dengar Win. Aku ini sahabatmu, kalau ada
masalah cerita dong. Aku nggak mau persahabatan kita putus hanya karena sikapmu
itu,” kara Ardi serius.
“Lalu aku harus bagaimana Ar? Aku nggak ingin
masa depanku hancur,” jawabku.
“Jadi kalau bersamaku, masa depanmu hancur
begitu?” kata Ardi.
“Bukan begitu Ar. Kamu nggak akan pernah bisa
mengerti.”
“Lalu sebenarnya ada apa denganmu Win?” tanya
Ardi.
“Maaf aku nggak bisa jawab. Tapi aku mohon
untuk sementara jauhi aku, lagi pula sebentar lagi kita akan ujian. Kumohon,”
kataku memelas.
“Baiklah Win, jika itu baik untukmu. Tapi satu
pesanku, kadang orang harus berani menghadapi kenyataan. Kita harus berani jika
kita benar,” kata Ardi sambil pergi.
Kata-kata Ardi terus terngiang ditelingaku.
Kurasa ada benarnya juga. Tapi aku masih belum cukup berani untuk melawan
Riska. Apalagi bila kuingat dia anak Kepala Sekolah.
“Ris menurut mata-mata, si Wina seharian
bersama Ardi. Dia sudah berani ngelawan kamu Ris,” kata Sasti.
“Masak sih? Kalau memang begitu harus diberi
pelajaran tuh anak,” kata Riska geram.
“Betul Ris,” kata Yeni setuju.
***
“Eh Wina, berani ya kamu sekarang!” gertak
Riska.
“Ada apa Ris?” tanyaku.
“Nggak usah basa-basi. Kemarin ngapain kamu
sama Ardi? Kan sudah kubilang jangan dekati dia lagi. Eh kamu masih juga
ngelawan. Nantangin ya!” kata Riska marah.
“Tapi kan aku...” kataku terputus.
“Udahlah. Kesabaranku sudah habis,” kata
Riska.
“Maaf Ris. Aku nggak akan ngulangin lagi,”
kataku meyakinkan Riska.
“Waktumu sudah habis Win, bersiap-siaplah
keluar dari sekolah ini,” gertak Riska sambil pergi.
“Matilah aku. Riska marah. Ini semua gara-gara
Ardi. Tapi aku kan tidak bersalah, mengapa aku harus takut. Ah ... aku pusing,”
kataku dalam batin.
Kurasa Ardi benar-benar menuruti keinginanku.
Dia menjauhiku sekarang. Semoga Riska senang. Tapi ternyata itu tak benar sebab
waktu pulang sekolah, sepertinya ada orang yang membuntutiku. Pad di jalan yang
sepi orang itu menghadangku.
“Berhenti! Kamu Wina kan?” kata orang itu
kasar.
“Benar, memang ada urusan apa?” tanyaku heran.
“Kalau begitu terima ini!” kata orang itu
sambil meninju mukaku.
Spontan aku langsung jatuh ke tanah. Begitu
mau bangkit orang itu langsung
menendangku. Hingga aku jatuh tersungkur di tanah. Orang itu memukulku
berkali-kali hingga pandanganku kabur. Samar-samar kudengar orang itu berkata,
“Coba kau tururi Riska, nasibku nggak akan seperti ini. Dasar gadis bodoh!”
“Oh ... jadi Riska sungguh-sungguh marah
padaku. Ya Allah lindungilah hambamu. Aku ingin bertemu dengan Rahmat,” kataku
dalam hati. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.
Begitu bangun aku sudah berada di rumah sakit.
“Suster aku kok di sini? Apa yang terjadi?”
tanyaku bingung.
“Tadi Anda terluka di jalan, mungkin Anda
korban tabrak lari,” jelas suster itu.
“Apa iya, bukankah tadi aku dipukuli orang,”
kataku.
“Nah orang ini yang menolong Anda,” kata
suster itu sambil menunjuk seseorang.
“Ardi, jadi kau yang...” kataku terputus.
“Sudah Win. Semua sudah berakhir. Riska sudah
mengaku salah. Sekarang dia diskors,” kata Ardi.
Aku hanya diam mendengarkan perkataan Ardi.
“Win, inilah akibat sikap diammu.
Ketidakterusteranganmu padaku,” kata Ardi.
“Yah, aku tahu. Tapi bagaimana Rahmat. Apa dia
tahu?” tanyaku.
“Tentu dia tak kuberitahu.”
“Syukurlah. Terima kasih Ar atas kebaikanmu.”
“Sudah lupakan saja. kita kan sahabat,” kata
Ardi.
“Kamu benar Ar,” kataku setuju.
Setelah merasa sembuh aku diizinkan pulang.
Persahabatanku dengan Ardi kembali baik. Dan sekarang aku harus lebih berani.
Kurasa hari bahagiaku telah tiba. Riska sudah
bersikap baik terhadapku. Sekarang aku tidak usah khawatir akan dikeluarkan
dari sekolah. Tapi rupanya inilah awal dari semua bencana. Hingga suatu hari...
“Win, aku mau bicara,” kata Riska.
“Kelihatannya penting, memang ada apa?”
tanyaku.
“Begini Win ini menyangkut soal kematian
ayahmu. Kurasa kau perlu mengetahui kebenarannya,” kata Riska membuatku
penasaran.
“Sebenarnya ada apa Ris?” tanyaku mulai
penasaran.
“Win kau tahu Pak Hardi, bekas pegawai
ayahmu?” tanya Riska balik.
“Tentu aku tahu. Beliau orang yang baik,”
jawabku. “Lantas mengapa?”
“Pak Hardi masih saudara jauh ayahku. Beliau
tahu bahwa adikmu diasuh Pak Karto. Lalu beliau khawatir melihat hal ini,”
jelas Riska.
“Aku semakin tidak mengerti Ris. To the point aja,” kataku tidak sabar.
“Perlu kau ketahui Win. Pak Karto adalah
penyebab kebangkrutan ayahmu,” kata Riska serius.
“Bagaimana bisa? Pak Karto adalah teman baik
ayahku. Bahkan dulu ayahku pernah menolongnya. Itu mustahil,” kataku tak
berdaya.
“Tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi kalau
menyangkut harta orang akan lupa segalanya. Dengar Win, Pak Karto telah
mengambil semua pelanggan ayahmu dan menyebarkan rumor yang tidak enak tentang
perdagangan ayahmu. Apa ini bukan tindakan keji?” kata Riska meyakinkanku.
“Ini nggak mungkin. Pak Karto sangat baik
padaku dan Rahmat.”
“Itu hanya kedoknya Win. Dia takut
kebusukannya kau ketahui,” kata Riska.
“Apa benar begitu? Sulit dipercaya. Ayah Ardi,
Pak Karto tega menghancurkan hidup keluarga temannya sendiri. Benar-benar
biadap!” kataku marah.
“Oleh karena itu Win aku merasaa berkewajiban
mengatakan ini semua padamu. Aku ingin kau tahu siapa sebenarnya Pak Karto
itu,” kata Riska.
“Baiklah, tunggu pembalasanku Ardi kau dan
keluargamu juga akan hancur,” makiku.
Mungkin waktu itu Riska senang berhasil mengadu
domba aku dan Ardi. Dan begitu bodohnya aku sehingga mempercayai segala
ucapannya. Hingga hal yang benar-benar tak kuinginkan terjadi. Sore itu aku
berencana menjemput Rahmat.
“Rahmat ayo kita pulang. Ini bukan rumahmu!”
kataku begitu sampai di rumah Ardi.
“Eh Mbak Wina ada apa?” tanya Rahmat heran.
“Sudahlah jangan banyak bicara!” kataku
membentak.
“Ada apa Win? Kok marah-marah sama Rahmat?”
kata Pak Karto bijak.
“Sudahlah Pak jangan pura-pura. Bapak penyebab
kematian orang tuaku,” kataku marah.
“Bapak nggak ngerti Win. Kamu bicara apa? Itu
nggak benar. Siapa yang mengatakan padamu?” tanya Pak Karto.
“Tak penting siapa itu. Yang penting sekarang
Rahmat harus meninggalkan rumah ini. Aku tidak mau Rahmat tinggal dengan
penjahat,” kataku masih emosi.
“Wina hentikan ucapanmu. Tak pantas kau bicara
seperti itu pada ayahku,” kata Ardi yang tiba-tiba muncul.
“Kau yang diam Ar. Kau dan ayahmu sama saja.
Kalian penjahat!” kataku penuh umpatan.
“Kau..” kata Ardi hendak menamparku. Tapi
dicegah oleh Pak Karto.
“Sudahlah Ardi. Biarkan Wina berpikir jernih
dulu,” kata Pak Karto.
“Maaf Pak. Aku sudah berpikir masak-masak.
Rahmat harus pulang,” kataku tegas.
“Tapi Win. Rahmat harus sekolah,” kata Pak
Karto.
“Bapak nggak usah khawatir. Aku bisa
menyekolahkannya. Bapak tidak usah pura-pura simpati,” kataku sinis.
“Tapi kamu kan..” kata Pak Karto terputus.
“Cukup Pak. Saya dan Rahmat harus pulang,”
kataku sambil menggandeng Rahmat pergi. Rahmat hanya diam.
“Ayah, apa itu semua benar?” tanya Ardi.
“Suatu hari kau akan tahu siapa yang benar dan
yang salah. Tapi satu pesanku, jangan membenci Wina. Dia hanya diperalat. Kamu
mengeri!” kata Pak Karto.
“Iya yah,” jawab Ardi. “Aku akan mencari
tahu.”
Sejak saat itu kami tidak lagi berhubungan
dengan keluarga Pak Karto. Saat itu aku merasa benci pada mereka. Demikian juga
Rahmat, dia mulai benci dengan Pak Karto dan Ardi. Padahal seandainya aku tak
memperngaruhinya, nasib Rahmat tentu tidak akan menderita seperti ini. Dia
harus membantuku bekerja keras. Bahkan dia berencana jika sudah besar dia akan
menuntut balas pada Pak Karto karena dia merasa dipermainkan. Tapi rupanya
penderitaan tak kunjung pergi dari hidupku. Sampai suatu hari...
Ya. Ketika Rahmat pulang sekolah.
“Mbak, Mbak Wina aku pulang,” kata Rahmat
sambil berlari-lari.
“Ada apa Mat, kok senang banget?” tanyaku
heran.
“Ini Mbak, lihat kertas ini,” kata Rahmat
menunjukkan selembar kertas.
Namun sebelum sampai ke tanganku, kertas itu
tertiup angin sampai ke tengah jalan.
“Sebentar Mbak aku akan mengambilnya,” kata
Rahmat.
“Baiklah,” kataku. “Memang apa sih isinya?”
“Nanti Mbak pasti tahu,” katanya lagi.
Rupanya itulah kata-kata terakhir yang aku
dengar dari mulut Rahmat. Saat dia mengambil kertas itu, sebuah mobil dengan
kecepatan tinggi menabraknya. Tubuh Rahmat terpental lalu jatuh ke tanah dengan
tubuh penuh darah. Betapa hancurnya hatiku saat itu. Betapa tidak keluargaku
satu-satunya telah pergi meninggalkanku. Apa salah dan dosaku Ya Allah hingga
kau juga mengambil adikku. Tapi hal yang membuatku lebih sedih, ternyata adikku
ingin memberitahu bahwa ia mendapat beasiswa. Adikku ingin memberiku kejutan
melalui kertas itu.
“Maafkan Mbak, Rahmat. Seandainya Mbak lebih
mengerti akan kebutuhanmu.” Kini dengan siapa aku harus hidup. Aku sebatang
kara di dunia ini.
Makin hari hidupku tak karuan. Aku merasa
telah banyak berbuat dosa.
“Win, aku turut berduka cita,” kata Riska.
“Tidak apa-apa. Mungkin ini sudah takdirku,”
kataku.
“Apa Ardi sudah tahu?” tanya Riska.
“Mungkin sudah. Aku sendiri tidak tahu. Sudah
lama aku tidak berhubungan dengannya,” kataku apa adanya.
“Tapi dia kan sahabatmu sejak dulu,” kata
Riska.
“Apa kau ingat seorang sahabat bisa menjadi
musuh. Itulah sekarang antara aku dan Ardi,” jawabku.
“Ya sudah sekarang kamu konsentrasi ke sekolah
saja. Kan UAN-nya sudah dekat,” nasehat Riska.
“Kamu benar Ris,” kataku setuju.
Mungkin akulah makhluk terbodoh di dunia.
Setiap hari aku dicekoki Riska dengan perkataannya yang buruk tentang Ardi.
Anehnya waktu itu aku menurut saja. Mungkin rasa takutku akan dikeluarkan dari
sekolah jadi alasan penting. Mungkin ini juga merupakan penyebab aku kehilangan
Rahmat. Rahmat maafkan mbak. Semua ini salah Mbak.
Tapi hari ini aku baru tahu kebenarannya.
Begitu kudengar perkataan Riska dan teman-temannya.
“Ris, kamu sudah berhasil kan? Ayo traktir
kita dong!” kata Yeni dan Sasti.
“Tentu. Karena aku telah berhasil mengadu
domba Wina dan Ardi. Aku mengarang cerita bahwa Pak Kartolah yang menyebabkan
kematian ayah Wina. Sekarang mereka saling benci,” kata Riska puas.
“Jadi kami boleh minta apa saja dong,” kata
Yeni.
“So pasti non. Apa saja,” kata Riska.
“Jadi ini ulahmu Ris?” kataku sehingga
mengagetkan mereka.
“Eh Wina. Ada apa Win?” tanya Riska.
“Aku sudah tahu semuanya Ris. Aku menyesal
mempercayaimu, kamu pembohong!” kataku sambil pergi meninggalkan mereka.
“Ris dia sudah tahu!” kata Sasti.
“Mau bagaimana lagi. Kalau sudah terlanjut
begini. Aku nggak akan biarin mereka bersatu,” kata Riska.
Aku berencana ingin minta maaf pada Ardi dan
Pak Karto. Aku telah berprasangka buruk bahkan menuduhnya pembunuh. Aku sangat
berdosa. Tapi aku sekarang benar-benar tidak punya muka dihadapan beliau. Aku
benar-benar malu. Tapi aku harus minta maaf. Aku harus mencari Ardi. Rupanya
dia sedang ada di perpus. Kuberanikan diriku untuk menemuinya.
“Ardi, aku mau ngomong,” kataku ragu.
“Aku tahu, suatu hari kamu pasti ngerti bahwa
kamu salah. Aku yakin,” kata Ardi.
“Bagiamana bisa? Tapi bagaimanapun juga aku
tetap minta maaf atas kesalahanku,” kataku.
“Sudahlah aku dan ayahku sudah memaafkanmu
dari dulu dan sekarang ayo ikut aku,” ajak Ardi.
“Kemana? Bukankah setelah ini ada pelajaran?”
tanyaku.
“Sudahlah. Gurunya kan tidak ada. Ayo Ayah
ingin memberitahu sesuatu kepadaku. Ayo ikut!”
“Tapi...”
“Sudah. Kamu ingin tahu kan dengan siapa aku
punya ikatan? Ayah baru mau memberitahuku sekarang,” kata Ardi senang.
Lalu kami bergegas pulang. Dan lagi-lagi niat
buruk Riska menghancurkan kebahagianku. Dia telah menyuruh orang untuk merusak
rem motor Ardi.
Waktu itu ada mobil yang berhenti secara
mendadak. Lalu karena remnya tidak berfungsi, motor Ardi menabrak mobil itu.
Aku langsung jatuh terpental. Begitu pula Ardi, namun naas sebuah truk yang
sedang melaju menabraknya. Dan aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Hari itulah terakhir kalinya aku melihat Ardi.
Hari terakhir aku mendengar suaranya. Hari terakhir aku bersamanya. Aku harus
kehilangan sahabatku, orang yang kusayangi lagi. ini semua karena sifat
egoisku. Benar. Seperti kata Ardi dulu, bahwa sifat egoisku ini hanya akan
membuat penderitaan saja.
Ardi dan aku tak akan pernah tahu dengan siapa
Ardi punya ikatan. Ini semua salahku. Aku tak akan bersuara sampai aku bertemu
Ardi lagi.
Lamunanku mulai buyar. Angin semakin dingin
saja.
“Win, ayo pulang hari sudah malam,” kata Pak
Karto. Aku hanya mengangguk.
Perlahan Pak Karto mendorong kursi roda yang
kududuki. Beginilah aku sekarang. Ditakdirkan untuk menderita.
“Win, ada yang sedang menunggumu di rumah,”
kata Pak Karto. Aku tak menjawab. Tapi Pak Karto tidak marah sebab dia sudah
paham keadaanku. Sekarang aku tinggal bersama beliau, beliaulah yang merawatku
selama ini.
Sampai di rumah aku sungguh tak percaya dengan
apa yang kulihat.
“Ardi, kau kembali?” teriakku senang.
“Iya, Win. Aku sudah pulang,” katanya.
“Maafkan aku Wina. Aku terpaksa membohongimu.
Dia bukan Ardi. Dia adalah Arda, saudara kembar Ardi yang selama ini tinggal
dengan bibinya. Aku tidak ingin kau terus tertekan,” kata Pak Karto dalam
hatinya.
THE END.

0 Response to "DIAMKU MEMBAWA DERITA (Bag 2)"
Posting Komentar