DIAMKU MEMBAWA DERITA (Bag 1)
Tak banyak
bicara alias diam itu mungkin sudah menjadi kebiasaanku bahkan bisa dibilang
itu takdirku dan boleh jadi selamanya aku akan tetap begitu. Dan karena itulah
penyesalanku tak kan pernah berujung. Karena sikap plin planku inilah aku tak
punya banyak teman. Sepertinya orang-orang tak menyukai orang yang lebih
memilih diam seperti aku ini. Tak begitu banyak cerita yang kudapat dari sikap
diamku. Tapi begitu kudapat satu cerita ini aku mungkin tak akan lagi diam tapi
aku akan membisu.
Pantai
memang membuatku selalu merasa damai dalam kesedihan. Dinginnya angin laut
malam menerpa wajahku, air laut yang dingin seperti menembus jantungku. Aku
berpikir, “Inikah rasanya mati”.
“Kak Wina
sudah malam kok masih di sini,” sapa seorang anak kecil yang kuketahui bernama
Parto. Dia salah satu anak penjual cendera mata di sekitar pantai ini. Dia
sudah terbiasa berbuat seperti itu menyapaku sambil berlari karena dia tahu aku
hanya akan tersenyum. Mungkin selama dia mengenalku aku tak akan pernah
bersuara.
Malam ini di
langit bertabur bintang. Yah persis seperti satu tahun yang lalu. Waktu itu aku
masih kelas 3 SMU. Dulu keluargaku memang orang berada, serba berkecukupan
bahkan berlebih. Aku dan seorang adik laki-lakiku memang anak yang beruntung.
Tapi itu tak berlangsung lama. Usaha perdagangan ikan bangkrut, ayah lalu
sakit-sakitan. Setelah beberapa bulan ayah meninggal. Dan tinggalah ibu yang
siang malam bekerja keras hanya untuk mencukupi kebutuhanku, agar aku tetap
bisa sekolah. Mungkin ibu sangat kehilangan ayah akhirnya dia menyusulnya.
Sekarang lengkap sudah penderitaanku. Tapi keinginanku sudah bulat aku harus
bisa menamatkan studyku. Berbagai
pekerjaan kuterima , jadi penjual cendera mata, membantu berdagang ikan,
petugas kebersihan pantai semuanya aku lakukan. Semua pekerjaan membuatku capek
aku kurang tidur, waktu belajar aku kurang. Perlahan prestasiku menurun, aku
sering terlambat masuk sekolah. Berbagai hukuman aku terima tapi kalau ditanya
alasan aku akan lebih memilih diam. Begitu halnya dengan hari ini.
“Tok...tok...tok!”
“Masuk.
Lagi-lagi Wina, kapan kamu tidak akan terlambat? Kalau ditanya diam. Sekarang
Bapak ingin mendengar alasanmu,” kata Pak Imran mulai jengkel terhadapku.
“Saya ... saya
... sa..” kataku selalu terputus-putus.
“Sudahlah
Pak. Kalau memang dia sudah tidak bisa sekolah, dikeluarkan saja. Saya merasa
terganggu setiap pagi harus begini. Di sini saya mau belajar, Pak.” Tiba-tiba
salah seorang siswa namanya Ardi membuat usulan yang membuatku bingung
sekaligus kecewa. Tak kusangka Ardi yang selama ini ku kenal baik, akan berbuat
seperti itu.
Baru kali
ini Pak Imran tidak menghukumku. Aku disuruh duduk. Pelajaran hari ini tidak
bisa kuterima sedikitpun. Lalu kuputuskan aku akan memohon kepada Ardi agar
mencabut usulnya itu. Karena aku tahu dia sangat berpengaruh di sekolah. Apa
yang menjadi perkataannya selalu menjadi pertimbangan.
Pada waktu
pulang aku membuntutinya. Tapi saat ditikungan dia hilang.
“Aduh kemana
ya, kalau tidak hari ini besok pasti aku dikeluarkan,” kataku agak keras.
“Besok kau
memang akan dikeluarkan. Dasar anak pemalas selalu terlambat bangun,” kata Ardi
yang tiba-tiba muncul di belakangku.
Aku tidak
marah mendengar perkataannya. Kenyataannya aku memang begitu. Kuurungkan niatku
semula setelah kuketahui Ardi bicara kasar dan menyakitkan. Aku langsung
berlari pulang sambil menangis.
Seperti
biasa pulang sekolah aku langsung berjualan cendera mata. Taapi hari ini aku
tidak bersemangat. Karena aku takut dikeluarkan dari sekolah. Aku termenung di
pinggir laut. Rasanya aku ingin mati saja. Perlahan aku berjalan menuju ke
laut. Semakin dalam, dalam, dan dalam lalu...
“Bodoh,
memang mati enak!” kata Ardi sambil menarikku ke tepi.
“Apa kau
tidak memikirkan adikmu, lihat dia sedang bermain di sana. Dia senang dia punya
kakak yang bertaggung jawab. Dimana hati nuranimu?”
“Kau memang
mudah berkata begitu karena kau tak pernah menderita, kau tak tahu sulitnya
hidup, kau tak tahu rasanya tak punya orang tua. Kau anak orang kaya tapi
jangan pikir kau bisa menghinaku dan kau tak akan pernah bisa mengusirku dari
sekolah. Ingat itu!” kataku penuh emosi.
“Rupanya
sekarang kau bisa memaki orang. Memang aku anak orang kaya tapi aku tak picik
sepertimu. Aku bisa mengerti kesulitanmu. Tapi mengapa kau menolak ketika
ayahku hendak mengasuh adikmu. Bukankah akan mengurangi bebanmu?”
“Sampai
sekarang kau masih belum mengerti. Kau pikir untuk apa kulakukan semua ini. Ini
untuk adikku, tahu.”
“Bohong, kau
egois. Kau mementingkan diri sendiri, buktinya sampai sekarang adikmu belum sekolah.”
“Apa
maksudmu?” tanyaku.
“Suatu saat
kau akan mengerti, tapi pertimbangkanlah lagi keinginan ayahku,” kata Ardi
sambil pergi.
Aku terpaku
sendirian. Apa maksudnya semua ini. Kupandangi adikku dari jauh. Aku merasa
bersalah, seharusnya Rahmat sudah harus bersekolah. Tapi tidak, Rahmat adalah
hartaku aku tidak mau kehilangan dia seperti ayah dan ibu.
Hari-hari
kulalui tetap dengan prinsipku. Sewaktu malam aku mendengar Rahmat belajar
membaca. Diam-diam aku mendekatinya.
“Lho Rahmat
sudah pandai membaca,” kataku. “Siapa yang mengajari? Yang pasti bukan Mbak
kan?” tanyaku.
“Memang
bukan, yang mengajari Rahmat kan Mas Ardi,” kata Rahmat.
Ardi. Untuk
apa dia berbuat seperti itu. Lagi-lagi dia menghinaku. Dia pikir aku tidak bisa
mengajari adikku. Dasar anak orang kaya. Belum puas aku melampiaskan marahku,
tiba-tiba pintu diketuk. Perlahan kubuka pintu. Rupanya Pak Karto, ayahnya
Ardi.
“Silahkan
masuk Pak. Silahkan duduk,” kataku.
“Terima
kasih Win. Di mana Rahmat?” tanyanya.
“Oh Rahmat.
Dia sedang belajar, Pak. Rupanya dia ingin segera sekolah,” kataku menjelaskan.
“Karena
itulah bapak kemari Win. Bagaimana, apa kamu sudah memikirkannya lagi? Ini
kebaikanmu juga Rahmat. Bagaimana Win?” tanya Pak Karto.
“Sebelumnya
saya minta maaf Pak. Apakah Ardi yang menyuruh Bapak kemari? Kalau begitu maaf
Pak. Rahmat tetap di sini. Kami memang orang miskin, tapi bukan berarti Bapak
bisa menghina kami dengan cara seperti ini. Pak Karto hari sudah malam,” kataku.
“Bukan
maksud Bapak seperti itu Win. Bapak hanya ingin meringankan bebanmu. Kamu
jangan salah terka,” katanya.
“Maaf Pak,
saya harus segera tidur. Besok saya harus sekolah,” kataku tegas.
“Baiklah,
jika itu maumu begitu. Tapi jika kamu sudah berubah pikiran, pintu rumah Bapak
tetap terbuka lebar. Baiklah Bapak pulang sekarang. Asssalamualaikum,” kata Pak
Karto.
“Walaikumsalam.
Terima kasih Pak. Mudah-mudahan juga untuk yang lain, Pak,” kataku.
“Ya kamu
benar. Hati-hati di rumah Win.”
“Baik Pak.”
Aku masih
bingung. Apa maksud keluarga Pak Karto. Pasti mereka hanya pura-pura baik, agar
dipuji orang. Dasar orang kaya. Rupanya Ardi mau main-main denganku. Apa sih
maunya.
Esok harinya
di sekolah....
“Kau
belum bisa menerima iktikad baik ayahku,” kata Ardi.
“Sudahlah
Ar, aku sudah tahu semuanya. Kau dan ayahmu sama saja tidak punya perasaan,” balasku.
“Cukup
Win, jangan bawa-bawa ayahku. Sebenarnya akulah yang menyuruhnya dan asal kau
tahu sebenarnya..” kata Ardi terputus.
“Aku
tahu kau hanya kasihan padaku kan? Perlu kau ketahui masih banyak yang
membutuhkan belas kasihanmu dan yang pasti bukan aku. Mulai sekarang jangan mengganggu
lagi dan jauhi Rahmat,” kataku sambil pergi.
Sebenarnya
siapa yang salah aku sendiri juga tidak tahu. Tapi aku hanya ingin melaksanakan
amanat Ibu yaitu menjaga Rahmat.
Hari-hari
kujalani dengan Rahmat adikku satu-satunya. Sampai suatu sore kudapatkan Rahmat
sedang bersama Ardi.
“Maaf
Ar, apa kau sudah melupakan peringatanku dulu? Aku bilang jauhi Rahmat,” kataku
tegas.
“Mbak
Wina, Rahmat yang meminta Mas Ardi mengajari membaca kok,” kata Rahmat.
“Rahmat,
dengar ya. Mbak juga bisa mengajari Rahmat. Mbak kan juga sekolah,” kataku.
“Tapi
Rahmat ingin sekolah mbak,” kata Rahmat memelas.
“Rahmat!
Nanti Mbak juga akan sekolahkan kamu. Tapi uangnya belum cukup. Rahmat mengerti
kan?”
“Mbak
jahat. Mbak jahat...” kata Rahmat berlari sambil menangis.
“Kamu
egois Win. Coba kau lihat adikmu, dia pintar. Sudah waktunya dia sekolah,” kata
Ardi angkat bicara.
“Diam
kau. Ini semua gara-gara kau. Coba kau mau menjahui Rahmat, pasti tak akan
begini!” kataku.
“Dengarkan
aku Win, bukan aku turut campur tapi kau dan keluargamu sudah aku anggap
saudara sendiri. Ini bukan penghinaan Win. Aku dan ayahku sangat tulus ingin
membantu. Ayahmu adalah sahabat baik ayahku. Sudah seharusnya saling bantu,” kata
Ardi menjelaskan.
Aku
terdiam. Apa benar yang dikatakan Ardi. Apa aku yang salah. Apa aku egois.
Kasihan Rahmat, dia seharusnya sekolah. Tapi apa yang aku lakukan. Aku
menghalangi niatnya. Kejamkah aku.
“Bagaimana
Win?” tanya Ardi
“Entahlah,
aku bingung aku merasa bersalah pada Rahmat. Aku...”
“Sudahlah
Win. Menerima bantuan seseorang bukan berarti rendah. Justru engkau harus
bersyukur,” kata Ardi meyakinkanku.
“Apa
benar begitu Ar? Rasanya semua orang hanya kasian padaku.”
“Itu
tidak benar Win. Kami ingin menolongmu.”
“Tapi aku yang merasa tidak enak hati. Aku
sempat berkata kurang sopan pada ayahmu. Aku tak yakin aku masih punya muka
dihadapan ayahmu,” kataku ragu.
“Jangan ragu Win, ayahku tak pernah marah.
Malah beliau berharap kau segera berubah. Mendengar ini beliau pasti senang
karena dapat membalas kebaikan orang tuamu,” kata Ardi menjelaskan.
“Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Sekarang ayo kerumahku,” ajak Ardi.
“Tapi aku malu,” kataku.
“Sudah, ayo nanti keburu malam,” kata Ardi
sambil tersenyum lembut.
Memang aku tidak tahu malu. Tapi rasanya aku
yakin yang kulakukan benar. Ya mungkin keinginan Rahmat telah membuka hatiku
untuk menerima bantuan keluarga Ardi. Sepanjang perjalanan aku hanya diam.
Akhirnya sampai juga.
“Lho kok berhenti Win?” tanya Ardi.
“Aku malu Ar,” jawabku.
“Kau masih ragu ya. Ayo masuk akan kubuktikan
keraguanmu itu salah,” ajak Ardi.
Akhirnya aku masuk ke dalam rumah bersama
dengan Ardi. Jantungku berdebar keras memikirkan bagaimana reaksi Pak Karto
nanti.
“Eh Wina, ayo duduk Win,” kata Pak Karto
ramah.
“Begini Pak, maksud saya...” kataku terputus.
“Bapak sudah mengerti Win dan yakinlah
tindakanmu ini benar. Aku merasa senang bisa membalas kebaikan ayahmu. Dulu
ketika aku masih miskin ayahmulah yang membantuku. Waktu itu kamu belum lahir.
Ayahmu seorang pekerja keras. Aku sangat kagum, kamu mewarisi sifat ayahmu,”
papar Pak Karto panjang lebar.
“Tapi bukan maksud saya meminta balas jasa
Pak,” kataku.
“Tentu, aku tahu. Lagi pula aku membantumu
ikhlas dan demi rasa kemanusiaan,” kata Pak Karto.
“Bapak tidak tersinggung dengan perkataan saya
dulu?”
“Lupakan saja Win. Bapak paham akan situasimu.
Pasti semua orang akan melakukan hal yang sama bila dalam posisimu,” jelas Pak
Karto yang membuatku bernapas lega.
“Betulkan Win, Ayah tidak akan marah,” tambah
Ardi yang sejak tadi diam. Aku membalasnya dengan senyuman ringan.
“Nah, sekarang kita jemput Rahmat, kasian dia
sendirian di rumah. Mumpung hari belum terlalu malam,” kata Pak Karto. Aku
mengangguk setuju.
Pak Karto sudah lama menduda. Istrinya sudah
meninggal sejak Ardi masih kecil. Dulu aku sering diajak ayah ke rumah Pak
Karto. Begitupun sebaliknya, Ardi juga sering main ke rumahku. Tapi sejak ayah
bangkrut, aku tak bisa pergi ke luar. Tapi Pak Karto sering berkunjung ke
rumah. Ayah selalu menolak bantuan dari siapapun termasuk dari Pak Karto.
Beliau ingin berdiri sendiri. Begitulah aku selalu teringat ayah jika melihat
Pak Karto.
Rahmat sangat senang. Dia bisa sekolah. Tapi
sekarang aku sendirian. Tapi tak apa, yang penting Rahmat bisa hidup berkecukupan
dan tidak menderita. Semoga ibu dan ayah menyetujui tindakanku ini.
***
“Ris, apa kamu tidak cemburu lihat tuh si Wina
dan Ardi makin hari makin lengket aja,”
kata Yeni.
“Enggak, karena itu tidak akan berlangsung
lama. Lihat saja kebencian akan timbul diantara mereka,” ucap Riska penuh
percaya diri.
“Aku dukung Ris, masak kalah sama anak kayak
gitu. Malu-maluin geng kita dong,” tambah Sasti.
“Don’t
worry!” kata Riska mantab.
“Eh lihat tuh si Ardi ke perpus. Ayo Ris
cepetan!” bujuk Yeni.
“Baiklah, akan kubuktikan!” kata Riska.
Riska segera mengejar Ardi ke perpus. Dia
membenarkan seragamnya yang sedikit berantakan.
“Hai Ardi tunggu! Aku mau bicara,” sapa Riska.
“Eh, ada apa Ris?” balas Ardi.
“Bagaimana usulmu untuk mengeluarkan Wina?”
tanya Riska.
“Apa kamu sangat menginginkan Wina keluar?
Maaf Ris, Wina nggak akan keluar. Aku harus segera masuk, aku mau belajar
bareng Wina,” kata Ardi.
“Tunggu Ar, tunggu!” teriak Riska.
Tapi Ardi terus melangkah. Tak dipedulikan
Riska dengan teriakannya. Dia segera masuk ke perpus.
“Hai Win, udah lama ya?” sapa Ardi.
“Belum kok,” kataku singkat.
“Win, nanti ke rumah yuk. Kamu nggak kangen
sama Rahmat?” kata Ardi.
“Tapi kan banyak PR Ar,” jawabku.
“Ya sudah,” balas Ardi. “Win kamu kok diam
sih? Kamu marah ya sama ku. Aku salah apa sama kamu?” tanya Ardi kemudian.
“Enggak, aku tadi lihat kamu sama Riska.
Kelihatannya dia suka sama kamu. Jangan disia-siakan Ar. Diakan anak Pak Kepala
Sekolah,” jelasku.
“Tapi kan aku nggak suka, Win.” Ardi
tersenyum.
“Memangnya ada orang lain ya?” tanyaku.
“Aku masih belum mau memikirkannya Win. Tapi
asal kau tahu, aku sudah punya ikatan. Tapi aku juga belum tahu karena Ayah
tidak memberitahuku,” jelas Ardi.
“Kok begitu ya,” aku heran. “Apa kamu nggak
penasaran?” tanyaku.
“Aku mengerti. Orang tua menghendaki yang
terbaik untuk anaknya. Iya kan?” jelas Ardi.
Aku hanya manggut-manggut mendengar ucapan
Ardi. Memang sejak Rahmat ikut Pak Karto persahabatanku dan Ardi makin baik.
Rasanya kembali menjadi kecil. Apakah mungkin persahabatan bisa tumbuh menjadi
cinta? Ah ... aku harus buang jauh-jauh perasaan itu. aku harus tahu balas
budi.
Baca bag 2

0 Response to "DIAMKU MEMBAWA DERITA (Bag 1)"
Posting Komentar