BEAUTY GIRL


Aku pikir kakakku adalah gadis paling sempurna yang diidamkan banyak cowok. Dia cantik, pintar, dan bisa melakukan apapun dengan sempurna. Tidak ada yang tidak melihatnya. Semua cewek iri padanya.
Sedangkan aku hanyalah adiknya yang berbeda seratus delapan puluh derajat darinya. Tapi aku tidak terlalu buruk juga untuk disandingkan dengan kakak. Karena orang tuaku lebih menyayangiku. Mereka selalu mengingatkanku untuk tidak iri pada kakakku.
Aku tidak mau terlalu memikirkan itu. Karena aku punya caraku sendiri untuk membuatku bangga pada apa yang ada padaku. Aku memang kalah cantik dengan kak Rose sih. Tapi aku senang menjadi diri sendiri.
“Hei, Sanna!” kak Rose memanggilku.
“Ada apa kak?” aku menoleh pada kakakku.
“Lihat cowok itu!” tunjuk kak Rose.
“Dia?” aku melihat seorang cowok tampan yang ada digerombolan anak-anak SMA. Kak Rose mengangguk-angguk.
“Seragamnya sama denganmu. Kamu kenal tidak?” tanya Kak Rose.
“Kenal. Dia seniorku di klub drama.” Jawabku
“Kenalkan pada kakak ya...” Kak Rose memohon.
“Eh? Kakak kan sudah punya kak Rino.” Aku mengeryitkan alis.
“Sttt. Rino ya Rino. Tidak ada salahnya aku punya lebih dari satu. Akhir-akhir ini aku bosan dengan Rino. Dia sibuk sendiri.” Kak Rose cemberut. Meski begitu dia tetap kelihatan cantik.
“Masalahnya dia mau kenalan sama kakak?” ledekku
“Kau ini.” Kak Rose menjewer telingaku, “Nanti pulang sekolah aku jemput ke sekolahmu ya.”
“Terserah kakak sajalah.” Aku memegangi telingaku. Dia menjewer sekuat tenaga.
Entah sejak kapan kakakku yang dulunya polos sudah berubah seperti ini. Dia jadi suka gonta-ganti pacar. Karena dia merasa paling cantik. Aku tidak mau ikut campur. Kulakukan saja apa yang dia mau. Lagipula seniorku juga sedang jomblo kan.
Kuberanikan diri bicara pada kak Hazun. Pada saat dia di klub drama. Untung dia sedang sendirian di klub.
“Apa? Kenalan?” Kak Hazun cuma tersenyum kecut.
“Iya, kalau kak Hazun tidak keberatan. Dia cantik lho. Namanya Rose. Dia kakak perempuanku.” Aku seperti sales kosmetik saja.
“Rose? Oh anak itu?” Kak Hazun tersenyum lagi.
“Kakak kenal kak Rose?” tanyaku.
“Tidak ada yang tidak mengenalnya. Tidak kusangka ternyata dia kakakmu.” Kak Hazun berdiri. “Jangan jadi seperti kakakmu ya.” Dia mengusap rambutku.
“A, apa?” aku sedikit malu.
Kak Hazun berlalu.
“Eh, tunggu kak. Bagaimana nanti?” aku mengejarnya.
“Oke. Boleh saja.” Dia mengerlingkan mata.
“Terima kasih.” Aku tersenyum kecil.
Dia keluar klub drama. Aku masih deg-degan karena dia mengusap rambutku tadi. Padahal aku baru kali ini bicara padanya. Oya apa maksudnya jangan jadi seperti kak Rose. Memangnya kak Rose itu bagaimana kalau diluar?
Pulang sekolahnya kak Rose sudah di depan sekolahku. Seperti biasa dia terlihat cantik dan seksi? Aku ini mikir apa sih.
“Sanna!” kak Rose melambaikan tangan.
Aku membalas lambaiannya dan segera mengajak kak Hazun menemui kakakku yang cantik ini.
“Kenalkan aku Rose.” Tanpa basa-basi kakak langsung ngajak kenalan.
“Aku Hazun.” Kak Hazun menjabat tangan kak Rose. “Tidak kusangka Sanna punya kakak secantik dirimu Rose.” Kak Hazun bisa menggombal juga.
“Benarkah?” Kak Rose tersenyum dengan manisnya.
Kemudian kami jalan bertiga. Aku mundur karena takut mengganggu mereka. Aku mengeluarkan hapeku untuk main game. Enak juga kalau jadi gadis populer ya.
“Kenapa kau jalan dibelakang? Ayo sini!” kak Hazun menarik tanganku.
“Tidak apa-apa kok.” Aku jadi disebelah kak Hazun.
“Sanna memang pemalu begitu. Makanya belum punya pacar.” Kak rose tertawa.
Aku hanya diam. Aku malu. Masa bilang aibku di depan kak Hazun. Aku memang belum pernah pacaran sama sekali.
“Berarti Sanna tipe-tipe yang langka. Satu untuk selamanya begitu ya?” ujar Kak Hazun. Dia membelaku.
“I, iya kurasa.” Aku malu lagi. Kenapa kak Hazun?
“Oya, mampirlah kerumah Hazun. Kita kan jadi teman sekarang.” Ujar kakak.
“Lain kali saja. Aku ada acara dengan teman-teman.” Tolak kak Hazun.
“Ya, baiklah. Tapi boleh minta nomor hapemu?” kak Rose berani sekali. Aku sampai kaget tahu hal ini.
“Tentu saja.” Jawab kak Hazun.
Aku seperti gadis kecil yang baru mengenal dunia. Beginikah kakakku yang sebenarnya. Dia bukan seperti kakak yang kutahu selama ini. Agak berbeda dari yang kubayangkan. Karena aku jarang komunikasi dengannya membuatku kaget dengan dunia kakak.
“Thanks ya. Aku masuk dulu. Nanti sms ya.” Kak Rose segera masuk rumah.
Aku masih di depan bersama kak Hazun.
“Kenapa diam?” tanya kak Hazun.
“Ah tidak apa-apa. Benar kataku kan kakakku cantik.” Aku senyum-senyum untuk menutupi rasa bodohku.
“Ya dia cantik.” Kak Hazun mendekatiku,” Tapi lebih cantik Sanna lho.” Bisik kak Hazun.
“A,apa?” wajahku memerah,” Kak Hazun jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda. Baiklah aku pulang dulu. Sampai jumpa besok.” Kak Hazun lagi-lagi mengelus rambutku.
“Ah, iya.”
Dia mengelus rambutku lagi. Apa yang dilakukan kak Hazun sih. Tapi sepertinya dia tidak tertarik dengan kak Rose. Padahal mereka serasi sekali. Menurutku. Aku juga suatu hari nanti bisa bersanding dengan pria yang serasi denganku. Yang dengan senang hati mau berjalan bersamaku.
“Rose, habiskan makananmu. Jangan smsan saja!” ujar Ibu saat makan malam.
“Iya-iya Ibu.” Kak Rose masih asik smsan.
“Pasti smsan dengan Kak Hazun.” Batinku sambil melahap makananku.
“Enak? Mau lagi?” tawar Ibu yang melihat piringku kosong.
“Boleh. Sedikit saja ya.” Aku cengengesan.
“Tenang saja. Ini tidak bikin gendut Sanna.” Ujar Ibu.
Ibu selalu hangat dan sayang padaku. Mungkin ini cara Ibu agar aku tidak terlalu merasa iri pada kak Rose. Padahal aku tidak memikirkan itu.
Karena kakak aku jadi sering bicara dengan kak Hazun. Ya akhirnya kami bertegur sapa setelah satu tahun hanya sebatas kenal di klub drama.
“Apa? Jadi kau sudah tahu rumahnya?”
Aku tidak jadi masuk ruang klub. Ada yang sedang bicara di dalam. Apa boleh aku menguping?
“Iya begitulah.” Suara kak Hazun.
“Tidak disangka mereka saudara ya.”
Mereka membicarakanku dan kak Rose. Aku harus mendengar lagi.
“Memang tidak disangka. Padahal sudah setahun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kesempatan datang sendiri. Kali ini aku pasti akan mendapatkannya.”
“Kalau berhasil kau harus traktir kami ya.”
“Kalau begitu bantu aku dong. Juga soal adikku.”
“Oh, masalah empat bulan lalu itu ya?”
Pembicaraan makin tidak jelas. Aku segera pergi sebelum ketahuan. Diluar dugaanku ternyata kak Hazun tertarik dengan kakakku. Insting gadis yang tidak pernah pacaran  
“Sann!” Rima menepuk bahuku.
“Rima bikin kaget saja.” Aku merengut.
“Akhir-akhir ini aku lihat kamu makin akrab dengan kak Hazun ya.” Rima cengengesan.
“Oh itu..”
“Kalian jadian?”
“Apa? Tidak kok.”
“Lalu?”
“Ada urusan dengan kakakku.”
“Apa? Kukira kalian jadian. Padahal gosip itu beredar lagi.” Ujar Rima.
“Gosip apa?” aku penasaran.
“Kamu tidak tahu?”
Aku geleng-geleng.
“Kau ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?”
“Benar aku tidak tahu.”
“Kak Hazun kan suka padamu.”
Aku diam.
“Wah kau benar-benar tidak tahu. Tiap hari anak-anak menggosip itu tahu. Eh yang digosipin malah tidak merasa. Wahai es yang cantik.”
“Ehhhhhh?????!!!!”
“Bahkan dia menjulukimu es yang cantik.”
“Aku tidak tahu soal itu. Masa kak Hazun begitu. Tapi dia dan kakakku kan..kan kan.” Aku berdebar-debar.
“Ya. Itu karena kau itu pendiam, cuek, dingin seperti es tapi cantik. Dingin tapi menarik perhatian. Kau ini beruntung sekali tahu.” Rima meyikutku.
Aku kehilangan keseimbangan. Aku jatuh?
“Dapat.”
Aku tidak jadi jatuh.
“Kak Hazun?” mukaku memerah.
“Hati-hati kau bisa jatuh Sanna.”
“A, terima kasih.” Aku segera berdiri sendiri dan langsung kabur.
“Sanna!” panggilan kak Hazun tidak kuhiraukan.
“Kami baru membicarakan kak Hazun lho.” Rima senyum-senyum.
“Membicarakanku?” Kak Hazun tersenyum tidak mengerti.
Aku harus kabur. Aku tidak bisa bertatap muka dengannya setelah aku tahu kenyataan ini. Apa benar kak Hazun menyukaiku? Padahal selama ini kan kami tidak saling mengenal. Bahkan bicara pun baru waktu itu. Aku terus berdebar-debar. Baru kali ini ada yang menyukaiku.
“Sanna!” kak Hazun menarik tanganku saat aku hendak kabur.
“....” aku masih diam tanpa melihatnya.
“Kenapa kau menghindariku?” tanya kak Hazun.
“A, aku..” aku tidak bisa bicara lancar.
“Kau sudah tahu ya?” kak Hazun melepas tanganku.
Aku masih membelakanginya. Sudah tahu apa maksudnya?
“Aku memang pengecut. Selama setahun aku diam saja dan pura-pura tidak ada apa-apa. Maaf ya.” Ujarnya.
Aku membalikkan badan.
“Apa maksud kak Hazun?”
“Aku suka pada Sanna.”
“Eh?”
Kak Hazun menembakku. Dia bilang suka padaku. Dalam hal seperti ini aku harus menjawab bagaimana? Aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Apa aku juga suka padanya?
“Kak Hazun bercanda lagi ya?” aku berusaha mencairkan suasana.
“Aku tidak bercanda.” Jawab kak Hazun tegas.
“Kak Rose?”
“Maaf soal kakakmu sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Aku menyukaimu. Aku mau menerima ajakannya berkenalan karena aku ingin bertemu langsung dengan cewek yang sudah meyakiti adikku.”
“Apa?” aku sedikit terkejut.
“Sepertinya kau belum mengenal kakakmu dengan baik Sann.” Ujar Kak Hazun
“Apa yang kakakku lakukan pada adik kak Hazun?” aku penasaran.
“Dia...”
Kak Hazun mulai bercerita. Ini membuatku syok dan tidak dapat menalarnya. Kakakku yang cantik kenapa berbuat begitu.
Empat bulan lalu adikku mengalami depresi berat. Dia gagal dalam kompetisi fisikanya. Itu karena ada yang mengkamuflase tugasnya. Hanya kerena seorang cowok menyukainya. Dan Rose lah yang melakukannya. Dia membuat adikku gagal dan terpuruk. Padahal adikku juga tidak menerima cowok itu. Rose itu tidak suka ada yang lebih dari pada dirinya. Kurasa bukan adikku saja yang menjadi korbannya.
“Kakak mana?” tanyaku pada Ibu.
“Di kamar. Dari pulang dia langsung ke kamar dan tidak keluar.” Jelas Ibu.
Aku segera ke kamar Kak Rose. Aku ingin dengar langsung dari mulutnya.
“Kak Rose!” panggilku sambil masuk kamarnya.
Kamarnya berantakan. Dia duduk di tempat tidur sambil menghadap keluar jendela.
“Kak!” panggilku lagi.
“Ada apa?” dia tidak membalikkan badannya.
“Ada yang ingin aku tanyakan.”
“Pergilah. Aku sedang tidak ingin melihatmu.”
“Kemana kak Rose yang kukenal dulu?”
“Kubilang pergi!”
“Tidak.”
“Sanna!” bentak kak Rose.
“Kenapa kak Rose jadi orang jahat. Kenapa kak Rose menyakiti teman-teman kakak. Apa karena kakak sempurna?” aku menangis.
“Oh, Hazun sudah cerita ya. Dasar cowok itu.”
“Kembalikan kakakku yang dulu!”
Aku membalikkan badan kak Rose.
“Kakak?” aku terbelalak melihat wajah kak Rose.
“Kenapa? Apa kau kaget Sanna? Inilah Rose yang kau bilang jahat. Akhirnya dia mendapat balasannya.” Kak Rose tertawa tapi keluar air mata dari pelupuk matanya.
Wajah kak Rose merah-merah. Seperti alergi tapi hanya pada wajah. Dan wajahnya sedikit melepuh.
Aku langsung berlari pada Ibu. Tanpa basa-basi lagi kami langsung membawa Kak Rose ke rumah sakit. Kata dokter kakak alergi pada kosmetik. Tapi kurasa kak Rose dikerjai teman-temannya yang pernah dia sakiti. Kak Rose hanya diam tidak mau berkata apa-apa. Mawar yang cantik itu berwarna merah. Dan itulah warna wajah kak Rose sekarang. Tidak bisa pulih. Aku harap dengan begini kakak mwnyadari kesalahannya dan kembali jadi Kak Roseku yang dulu. Aku akan selalu menyayangimu.
***
Kalau suka sama cerita ini jangan lupa comment dan share ya »-(¯`v´¯)-» »-(¯`v´¯)-» •:*:• •:*:•





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BEAUTY GIRL"

Posting Komentar